Belum dapat yang anda cari? Coba ketik disini, kali aja dapat.....

| 44 comments ]


Kalau pada tulisan PKS target 20 % saya sudah berjanji tidak akan menulis artikel tentang PKS lagi. Kecuali terjadi suatu hal luar biasa yang perlu saya tanggapi secara menyeluruh lewat sebuah tulisan. Sebisa mungkin tanggapan yang datang akan saya layani di kolom komentar. Tetapi beberapa hari terakhir ini ada beberapa oknum (atau satu orang oknum?) yang perilakunya cukup membuat saya tergelitik untuk menulis lagi artikel tentang PKS.

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan mengapa saya tidak berminat untuk membahas tentang PKS lagi? (kecuali terpaksa, sesuai dengan kondisi diatas) Ada beberapa alasan yang dapat saya uraikan menjadi beberapa poin antara lain :

1.Saya tidak lagi menghitung PKS sebagai variabel penentu masa depan bangsa ini. Argumennya? Tidak etis saya terangkan di artikel ini dan ujung-ujungnya nanti dituduh memfitnah. Saya bukan ingin menjelek-jelekkan PKS, saya hanya ingin menunjukkan keprihatinan saya akan “persepsi mutlak” karakter yang melanda mayoritas kader PKS, utamanya yang bergabung dari tahun 2004 sampai sekarang.

2.PKS saya nilai sudah anti kritik yang merupakan salah ciri utama kematian dari sebuah gerakan yang berangkat dan berdasar pada nilai seperti gerakan ikhwanul muslimin. Sebuah gerakan dengan landasan ideologis apapun, ketika meminggirkan peran dialogis dan argumentatif hanya akan mengantarkan mereka menuju jurang kehancuran yang makin dalam tanpa disadari atau tidak. Harus diakui, PKS bukannya melenyapkan peran dialogis dan kritik. Dalam halaqah-halaqahnya relatif masih ditemui tradisi itu, tetapi umumnya ujung diskusi tersebut akan bermuara pada pernyataan “antum harus tsiqah dan wajib taat”, “berhusnudzhanlah, karena hal ini sudah melalui syuro orang yang lebih paham daripada kita” dll. Tanggapan struktur PKS yang dinakhodai oleh segelintir qiyadahnya terhadap kritikan kadernya sendiri umumnya berpola sebagai berikut :
  • Kalau ada kadernya yang sedikit kritis disebut sebagai kader tidak tsiqoh dan tidak taat
  • Kalau ada berita apapun yang tidak enak langsung disebut fitnah
  • Lalu kalau ternyata benar, disebut ghibah, kemudian dilabeli membongkar aib
  • Setelah itu, kalau masih terus gencar bertanya disebut hasad dan barisan sakit hati
  • Kalau masih bertanya juga, disebutlah bahwa jamaah ini bukan jamaah malaikat tapi jamaah manusia. Kalau memang PKS jamaah manusia, maka seharusnya dan selayaknya ditegakkan aturan manusia seadil-adilnya! Bukan melegitimasi kekhilafan yang terjadi. Jadi kalau ada orang/sekelompok orang mengingatkan jangan marah atau merasa paling benar kalau dinasehati seperti itu dan membalas dgn hujjah di atas, kita bukan jama'ah malaikat..terus maunya disebut jama'ah apa? Karena jamaah manusialah, maka PKS harus siap bertanggungjawab. Apalagi PKS itu partai politik resmi yang terdaftar! Bukan yayasan abal-abal.
  • Akhir-akhir ini ada lagi senjata baru, yaitu : NAJWA atau bisik-bisik. Pendapat saya, istilah ini tidak tepat. FKP atau Forum Kader Peduli bukan bisik-bisik lagi, tapi mereka datangi fraksi, kirimi petisi ke bos besar, buat kajian yang terbuka buat siapa saja. Mereka sangat ingin diajak dialog, tapi bukannya diajak dialog yang obyektif, malah mereka dipanggil satu persatu untuk diadili. Masih pantas disebut bisik-bisik? Mau lihat contoh Najwa yang asli? Contoh fakta: sewaktu Ustad Anis Matta dan Bang Fahri Hamzah melakukan fait-accomply ke mana-mana bahwa iklan Soeharto sudah kesepakatan internal, sudah dibahas secara mendalam. Tapi dibantah oleh ustad Hidayat NW dan Ustad Tif, itu baru layak disebut bernajwa!
3.PKS sebagai parpol tidak masuk dalam rencana hidup saya. Saya tidak punya kepentingan apapun dengan PKS. Mau PKS menang, kalah, dapat 20 persen, dapat 1 persen, mau nungging, mau merangkak, mau berlari, dan lain-lain. Sama sekali tidak berimplikasi pada kehidupan pribadi saya baik secara ekonomi, sosial, politik dll. Saya tidak mendapat titipan agenda dari parpol manapun untuk menggembosi PKS, saya tidak akan mendapat penghargaan kalau kritikan saya berhasil membusukkan PKS, sebaliknya, saya tidak pernah berharap dengan menulis artikel-artikel ini saya akan mendapat bargaining politik, lantas ditawari masuk ke struktur politik PKS. Bukan itu tujuan saya, wong saya bukan aktivis politik praktis, dan tidak pernah berniat masuk ke politik praktis. Sewaktu dahulu saya ikut ngaji di PKS, lama baru saya ketahui (kurang lebih setahun) bahwa ternyata tarbiyah yang saya ikuti ternyata adalah turunan langsung dari sebuah partai politik. Lantas saya bertemu dengan Kak Uce yang mempunyai pribadi mempesona, dan sayapun tertarik bergabung. Semata-mata karena ingin mencari islam yang benar, setelah sewaktu SMU dahulu sangat gemar membaca majalah-majalah hidayatullah. Saya lalu makin terkagum-kagum dengan konsep pergerakan Hasan Al Banna, sampai sekarangpun kekaguman saya tidak pernah luntur. Sewaktu saya keluar dari jamaah PKS, saya menjalin korespondensi email dengan beberapa ustad-ustad FKP. Oleh beliau-beliau saya diajak buat ta’lim dan sejenisnya di Makassar. Tapi setelah saya pikir-pikir, jikalau saya bergabung dengan FKP, tentu saja akan menambah luka ukhuwah yang makin menganga dengan mantan rekan seperjuangan saya di PKS Sul-Sel. Dan bukan tidak mungkin, tuduhan dan ghibah keji akan menimpa diri ini. Sehingga saya mengambil keputusan, cukup memberikan dukungan moral dan terus mengikuti perkembangan. Saya bukan bagian resmi dari FKP, tapi saya adalah simpatisan dan pendukung mereka, sebagai harakatul inkadz gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia. Apalagi dengan fakta bahwa, sebelum keluar dari PKS saja, saya bisa mendapatkan perlakuan tidak adil, apalagi setelah keluar, emang bisa kedengaran? Hehehe.

4.Saya merasa, banyak orang yang lebih baik pemahamannya, lebih baik amalannya, lebih baik ibadahnya daripada saya di jamaah PKS. Saya merasa tidak pantas memberi kritik dan nasehat kepada mereka.

Nah, kalau memang sudah tidak berminat kok ditulis juga? Ini merupakan sebuah kontemplasi yang panjang buat saya dalam 2 bulan terakhir ini. Saya lalu bertanya-tanya ke hati saya sendiri. Buat apa saya kritik PKS? Apa untungnya? Jangan-jangan sentimen pribadi nih? Lama saya bertanya jawab dengan diri saya sendiri. Kemudian sampailah saya pada beberapa kesimpulan yang membulatkan saya untuk menulis lagi sebuah artikel tentang PKS. Kesimpulan itu adalah :

1.Saya ingin menjadi bagian dari manusia terbaik yang disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 110 : “Kalian adalah umat terbaik yang ditampilkan kepada umat manusia, karena kalian menyuruh perbuatan ma'ruf dan mencegah perbuatan munkar serta beriman kepada Allah.” Jadi, tidak mutlak menunggu amalan sempurna dahulu, tidak harus menanti amalan banyak, baru bisa memberi nasehat.

2.Hikmah itu bisa datang dari siapa saja. Bahkan iblispun ketika ditangkap oleh Abu Hurairah sanggup memberikan hikmah, yang banyak kita gunakan saat ini, yaitu ayat kursi. Dengan diri ini yang bertabur maksiat, semoga tulisan saya dapat memberi inspirasi kepada pembaca yang ditulis berdasarkan fakta riil di lapangan.

3.Keutamaan berjamaah yang dibahas dibanyak hadits. Saya merasa bahwa salah satu konstribusi saya kepada jamaatul minal muslimin (contoh: IM, HT, JT dll) yang merupakan metamorfosis transisi dari dan ke jamaah muslimin, adalah dengan menulis artikel seperti ini. Walaupun mungkin agak pahit, tetapi minimal saya memberi sedikit sumbangan kepada jamaah muslimin yang sama-sama kita nantikan kelahirannya. Dimana baiat kepadanya wajib! Dan tidak ada keraguan sedikitpun kepadanya!

4.Ikhwanul Muslimin adalah pergerakan islam kontemporer yang sangat saya hormati dan kagumi. Sejelek apapun PKS, dia tetap merupakan subordinat otonom yang dibawahi langsung tandhim ‘alami IM. Selama belum mendapat sangsi nyata dari tandhim ‘alami, maka selama itu pulalah perhatian saya akan tetap kepada PKS. Bahkan seburuk-buruknya PKS, dia tetap Partai Kupilih Selalu (ikut2-an bikin singkatan PKS/Partai Kebanyakan Singkatan hehe). Karena alternatif golput jauh lebih besar mudharatnya. Tapi untuk mempromosikan? No way! Gak tega tawarinnya ke orang-orang.

5.Seminggu terakhir ada sms dari orang aneh, yang tidak mau menyebutkan identitasnya. Saya tidak tahu apa maksud dan tujuannya. Ketika saya tunjukkan dalil fakta dan nash, dia hanya berkelit dan menjawab asal. Lalu muncul lagi komentar dari seseorang bernama sastrawan hijau diblog saya. Yang anehnya, juga tidak jelas identitasnya (sudah tradisi kader PKS? Semoga tidak…). Memberi komentar bernada taklid, mengaku obyektif tapi sudah mengklaim bahwa ustad fulan PASTI salah sebagaimana klaim MRnya. Waduh, geleng-geleng kepala saya! Dan semakin bulatlah azzam saya untuk menulis lagi artikel tentang PKS.

6.Mayoritas kader PKS (tidak seluruhnya) dihinggapi “persepsi mutlak” yang menurut saya sangat berbahaya ketika PKS akan menjadi what so called the ruling party. Dimana saya akan menjelaskan dalam urutan poin pembahasan tersendiri.


Diatas saya sudah sebutkan rawannya “persepsi mutlak” yang menjadi karakter lapangan mayoritas kader PKS. Karakter ini sangat berbahaya menurut saya, apalagi salah satu goal atau tujuan PKS adalah ingin menjadi partai pemenang. Kenapa saya sebut berbahaya? Karena karakter ini dibungkus dengan doktrin ideologi agama. Dimana kita semua tahu, agama merupakan barang yang sangat sensitif, dan tidak sedikit orang yang rela menyabung nyawa karenanya. Maka, jikalau karakter ini terlanjur membentuk persepsi kader PKS saat ini. Ketika telah berkuasa, sangat berpotensi pemerintahan yang terbentuk akan lebih bersifat diktator daripada orde baru maupun orde lama. Adapun “persepsi mutlak” karakter kader PKS secara umum adalah :

  • Ketika kader PKS diingatkan, bahkan dengan mengacu ke dalil yang shahih sekalipun, muncul balasan, "jangan jadi komentator tapi beramallah", "memang antum sudah beramal apa?", “ayo amal, amal, amal!”. dll. Na'udzubillah, ini kelakukan menyimpang, merasa berhak mempertanyakan amal orang, dan merasa sudah banyak beramal. Seolah-olah orang diluar PKS itu sedikit kerjanya, bahkan tidak beramal sama sekali. Saya tidak akan pernah terpancing untuk menyebut-nyebut amal saya dengan ungkapan bodoh seperti diatas.
Cukuplah taujih robbani kepada kita semua :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya (Al Baqarah: 264).
  • Masih berhubungan dengan karakter pertama. Kader PKS seakan merasa mereka adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang bersifat proprietary, sehingga merasa berhak memutuskan apapun tanpa melihat aspek 'perasaan' publik, hal mana terlihat jelas dalam berbagai kebijakannya selama ini. Padahal perlu dicatat dan diingat bahwa sebuah partai politik adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang sudah go public. Layaknya sebuah perusahaan yang besar karena go public, mereka juga harus mempertanggungjawabkan kebijakan-kebijakan pentingnya kepada publik. Menjelaskan apa latar belakang sebuah kebijakan diambil.Tetapi sayang seribu sayang, ungkapan yang paling sering muncul untuk menanggapi konsep ini adalah: kami adalah pemain bola dan anda adalah penonton, dan penonton tahu apa sih? Selain teriak tidak karuan dari tribun penonton! Sekali lagi, industri sepakbola masa kini merupakan sebuah industri yang “share cost and profit” antara klub, suporter, dan publik. Dimana peran suporter bukan saja terletak pada sorak sorai mereka di dalam stadion, tetapi suporter juga turut andil dalam permodalan, berbagi untung rugi dengan cara membeli saham, membeli merchandise dan sebagainya. Tentu saja analogi ini hanya sekedar permisalan yang lahir dari kepala saya yang iseng. Tetapi secara umum logika pemain bola vs supporter untuk digunakan sebagai penangkis jawaban terhadap konstituen kritis sudah sangat baheula. Kecuali, logika manajemen sepakbola yang digunakan adalah logika klub sepakbola tarkam alias antar kampung, maka jawaban ini sangat manjur! Apakah manajemen PKS yang professional, bersih dan peduli itu adalah manajemen tarkam? Hanya kader PKS sendiri yang bisa menjawabnya.
  • Amal dakwah hanya seputar kegiatan kepartaian. Ini adalah fakta! Dari banyak diskusi dan pengamatan saya terhadap sepak terjang kader PKS selama ini. Banyak saya temukan persepsi bahwa ketika seorang kader tarbiyah hanya berdakwah di kampus, yayasan atau tandhzim lain diluar partai, maka itu dianggap belum atau tidak sempurna berdakwahnya. Dianggap belum paham manhaj. Dakwah sangat terbatas pada kegiatan direct selling, baksos, pasang spanduk, dll. Seolah-olah dakwah ikhwah di HT, JT, salaf, WI tidak afdol. Naudzubillah! Rasul SAW tidak duduk menjadi anggota Dewan Darun Nadwah (DPRnya orang Quraisy). Tapi Rasulullah tetap bisa berdakwah. Para ulama salaf juga demikian, banyak dari kalangan ulama salaf yang tidak menjadi bagian dari pemerintah dan majelis Ummat seperti Imam Ahmad bin Hambal tapi beliau masih bisa berdakwah. Banyak saudara-saudara muslim lain yang juga berjuang agar pornografi dimusnahkan di luar parlemen, bukan hanya dari dalam parlemen.
  • Materi-materi pembinaan yang sangat nampak membekas selama ini hanya seputar qiyadah-jundiah semata. Hanya mengandalkan kesetiaan (taat dan tsiqoh), tanpa mau lagi menggunakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sangat besar, yaitu iman dan akal. Sehingga yang terjadi, mereka membenarkan apapun dari qiyadahnya, berbaik sangka pada apapun yang datang dari qiyadahnya, berburuk sangka kepada orang yang kelihatan 'memusuhi jamaahnya', ikut memusuhi orang yang dimusuhi oleh qiyadahnya (sudah banyak asatidz sabiquunal awwalun yang berbeda pandangan muraqib amm yang terkena hal ini), bahkan tidak segan memfitnah orang-orang yang berbeda pendapat atau memberi peringatan kepada qiyadahnya.
  • Masih berhubungan dengan poin sebelumnya, karakter mayoritas kader PKS saat ini adalah ketidakseimbangan tabayyun. Apapun yang diperoleh dari qiyadahnya cenderung diterima tanpa reserve mendalam terlebih dahulu. Ketika dikatakan si A bermasalah, barisan sakit hati, tidak paham manhaj dll. Maka mayoritas kaderpun akan mengiyakan tanpa pernah berusaha sedikitpun untuk tabayyun. Tetapi ketika ada kebijakan PKS yang aneh di ranah publik, dan ada yang mempertanyakan. Maka diwajibkan baginya untuk tabayyun ke struktur PKS. Dan bisa ditebak, hasilnya, kalau tidak berhasil dibungkam, maka si tabayyuners akan diasingkan secara terang-terangan atau terselubung, cepat atau lambat.
  • Anggapan sempit bahwa kemenangan PKS adalah kemenangan dakwah? Harus disadari bersama bahwa kemenangan yang sesungguhnya bukanlah semata-mata ditentukan oleh berapa banyak kekuasaan dan jabatan itu bisa diraih dan dikuasai serta berapa banyak anggota yang duduk di DPR maupun di DPRD. Akan tetapi, hakikat kemenangan adalah ketika kita berpihak pada nilai-nilai keislaman tersebut walaupun secara kasat mata belum banyak kekuasaan yang dicapai dan diraih. Tetapi, ketika para dai yang politisi ini mendapatkan jabatan dan kekuasaan tersebut dengan cara-cara yang baik dan benar, maka itulah sejatinya hakikat kemenangan. Nah, sebelum lebih jauh, tahu gak sih kita semua apa itu kemenangan dakwah? Jawab :
Ketika tujuan dakwah sudah tercapai. Apa tujuan dakwah? Baca Quran.
Tujuan dakwah:
1. Penegakan kalimat tauhid (An Nahl: 36, Al Anbiyaa': 25, Az Zumar:11)
2. Berhukum pada hukum Allah (AlMaa'idah: 44, Yusuf:40,AsSyuura:13).

Negara atau khilafah itu hanyalah sasaran antara.

Cara menegakkannya: sudah ditegaskan dengan cara seruan hikmah (AnNahl: 125).
Bonusnya: Allah menjanjikan kekuasaan di muka bumi bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (An Nuur: 55)

Tantangannya: jalan dakwah memang bukan jalan dengan karpet merah (Al An'aam: 10, Al An'aam: 34), bukan pula jalan yang bertabur harta "ganimah hasil musyarokah" (Al An'aam: 90, Huud: 29).

Nah! Yang jadi pertanyaan, katakanlah PKS menang dengan sekian persen, apakah tidak akan ada lagi kasus seperti dukun ponari? Tidak ada lagi praktik-praktik paranormal? Atau ketika PKS menang syariat islam langsung tegak? Tidak ada lagi penentangan terhadap hukum Allah? Dll? Terlalu jauh kayaknya. Saya kira doktrin ini agak berlebihan, kemenangan politik bukanlah kemenangan dakwah! Tujuan utama dakwah adalah agar tidak ada lagi orang, makhluk di muka bumi ini yang menduakan nama Allah. Itulah tujuan para nabi diutus dari zaman Adam AS sampai Muhammad SAW! Berkuasa HANYA efek samping.
  • Anggapan bahwa kalau tidak ada PKS maka parlemen akan rusak. Dunia parlemen tanpa PKS seolah-olah akan dikuasai kekuatan sekuler.Tanpa obyektif berfikir, sebegitu mudahnya kah ummat islam dengan segenap ormasnya bisa 'dikerjain mentah2'? Apa iya juga kalau tidak ada ikhwah PKS diparlemen maka tatanan akan di 'rusak' dan dikuasai oleh non muslim? Sampai-sampai berfikiran kalau PKS tidak ada maka 'dunia kiamat'. Perlu diingat, PKS hanyalah satu diantara sekian banyak jama'ah minal muslimin di Indonesia. PKS hanyalah ijtihad tandhim IM Indonesia, yang bisa bubar sewaktu-waktu. Salah satu contoh klaim adalah perjuangan RUU Pornografi. Apa iya kalau tidak ada ikhwah PKS, RUU pornografi tidak akan lolos? Kesimpulan yang naif. Atas dasar fakta dan data apa sehingga bisa dijustifikasi seperti itu? Seharusnya kita sedikit membuka mata, yang namanya RUU pornografi yang mengajukan adalah pemerintah yang notabene digawangi menteri Dr. Mutia Hatta, dan digodok rame2 berbagai unsur. Bahkan sesungguhnya disahkannya UU Pornografi (meski banyak sekali hal-hal yg masih jauh dari Syariat Islam) karena dorongan dari luar parlemen yang begitu besar, bukan dari dalam parlemen. Perjuangan tentang UU Pornografi bukan hanya milik PKS. Tuty Alawiyah ketika menjabat menteri di Kabinet Habibie pernah mengajukan, meski ditolak. DPR tidak akan mensahkan, jika tidak ada dorongan masyarakat. Sehingga pada dasarnya RUU Pornografi merupakan rangkaian dari perjuangan bertahun-tahun, dan bukan cuma milik PKS. Itu cuma satu contoh, masih banyak contoh yang lain.
Demikian karakter kader PKS yang akhir-akhir ini sering saya temui. Semoga dapat menjadi bahan renungan buat kita semua, semoga dapat menjadi nasehat yang berhikmah. Terutama nasehat kepada diri saya pribadi.
Wallahu Ta’ala A’lam.

44 comments

Arief Adi Nugroho said... @ March 31, 2009 at 6:51 PM

weleh weleh...
saya malah belum observasi masalah partai mas.
juga PKS, walaupun notabene temen temen banyak disana, memang agak gamang rasanya ketika membaca berita dari seseorang tentang saudarnya..

jadi... mungkin saya harus ngecek sendiri ke PKS apakah benar begitu. saya kudu ngader dulu kali ya? biar tau seperti seperti apa sebenarnya PKS??

tapi masalahnya... jujur saya itu orang yang enggak suka sama politik. nggak tau kenapa kok bisa nggak suka. kalo ditanya kenapa? ya jawabnya nggak suka aja :-P. sama seperti rasulullah ketika ditawari daging biawak...

kalau sampai saat ini sih saya hanya bisa berkhusnudzon sama temen temen yang ada disana. ya pikiran saya timbang yang lain (PDS,PDI,GOLKAR....) gitu. saya sedikit sedikit memang menemui "karakter" yang ditulis mas iqbal diatas pada temen temen saya. ya, insyaAllah saya coba cek dengan cara saya sendiri mas.

Syukron Jazakumullah infonya...

Liez said... @ April 1, 2009 at 12:48 AM

kebimbangan saya menjadi makin bimbang dengan tulisan ini..entahlah..kok di kota saya sekarang justru kenyataannya sepeti gambaran di atas...
semoga saya gak mengidap penyakit was washah seperti dalam surat An-Nas...

Umi Rina said... @ April 1, 2009 at 2:29 AM

Hmmm, bingung nich mau komentar apa...
Dari dulu, sejak saya melihat sejarah politik di Indonesia yang kelam, saya sangat tidak suka politik. Tapi sebagai warga negara yang baik, yang tinggal di heterogennya manusia, saya mencoba mencari yang 'terbaik' dalam kacamata saya dan tentunya pemimpin keluarga saya.

Rasanya sulit ya bisa menyetarakan kepemimpinan pemerintahan dengan kepemimpinan agama?

Jazakallohu khoiro Pak Dokter atas share pengalamannya...:)

egganimation said... @ April 1, 2009 at 8:14 PM

gimana dengan PDIP, PDS, GOLKAR, PPP, P.DEMOKRAT dan Partai2 lainnya?kok cuma mengkritisi satu sisi saja sih?..fakta dan datanya masih kurang, itu cuma ungkapan pribadi. dibanding partai lain PKS lebih sedikit dosanya..

Iqbalsandira said... @ April 2, 2009 at 2:55 AM

To egg animation,
PKS partai politik terbaik di Indonesia, tetapi sebagai jamaah dakwah dan ini diakui sendiri oleh PKS, PKS sudah mulai mengindikasikan kegagalan

Iqbalsandira said... @ April 2, 2009 at 2:57 AM

Saya bukan pengamat partai politik tapi saya adalah seorang muslim yang berusaha berkonstribusi untuk bangkitnya jamaatul muslimin....

selasih said... @ April 5, 2009 at 4:36 AM

tulisan ini.. belum sy selesaikan...gak sanggup...

Waladi Nur Akbar said... @ April 7, 2009 at 11:12 AM

Wah menarik...

cuma seperti egganimation bilang... kenapa cuma PKS ya yang di "adili", apa karena PKS adalah partai terbaik di indonesia? seperti jawaban Pak Iqbalsandira lalu menjadi legitimasi untuk bisa di "adili"? menjelang PEMILU lagi... hehehe

Bpk Iqbalsandira diawal hampir setiap paragraf memuji - muji PKS namun secara langsung membeberkan "keburukan" yang menurut saya tidak seimbang..

Apalagi menjelang PEMILU di publikasikan tulisan ini.... emmmm...
membuat saya berfikir apakah ada kaitannya dengan penggembosan PKS? (seperti salah satu tulisan Bpk Iqbalsandira: "Ketika telah berkuasa, sangat berpotensi pemerintahan yang terbentuk akan lebih bersifat diktator daripada orde baru maupun orde lama") walaupun Bpk Iqbalsandira sudah menjelaskan panjang lebar terkait hal ini..

Sebagai sesama simpatisan, saya berfikir toh kenapa ngga menunggu setelah PEMILU baru di publikasikan tulisan ini sebagai kajian bersama agar PKS lebih "terbuka" sehingga tidak berkesan "Penggembosan" menjelang PEMILU, apalagi bagi saya, tulisan ini menjadi sesuatu yg sangat berpengaruh kepada "Swing Voter" berlatar belakang KeIslaman sehingga mungkin saja membuat mereka berfikir dua kali untuk memilih "Partai Terbaik di Indonesia" bahkan lebih parahnya berfikir "Masa partai terbaik seperti ini, yaa... mending GolPut deh.." yang kembali seperti Bpk Iqbalsandira bilang lebih banyak keburukan dari pada kebaikan dalam hal GolPut ini..

Hanya Allah Swt yang mengetahui segala kebenaran.. dan kami berlindung kepada Allah Swt dari godaan Syaitan yang terkutuk.

Iqbalsandira said... @ April 7, 2009 at 7:23 PM

Assalamualaikum,
Maaf gak bisa banyak posting, waktu mepet...hehehe
Saya bukan simpatisan PKS mas, saya simpatisan pergerakan IM. Mungkin itu yang perlu mas catat baik-baik!
Bersyukurlah saya memberikan gambaran PKS seperti ini, toh hanya sedikit saya menggambarkan bgm keadaan PKS sekarang. Saya sebenarnya mau golput. Tapi takut konsekwensinya di akhirat. Saya bisa tuh sajikan data2 yang lebih "gawat" lagi. Tapi apa untungnya???
Kalau saya dituduh menggembosi PKS, bisa di cek kok. Data pribadi saya jelas, identitas saya jelas. Dari situ bisa dilacak siapa dan bgm pemikiran serta afiliasi saya.
Terimakasih mas dah mampir.
Wassaalam...

selasih said... @ April 8, 2009 at 12:01 AM

Tulisan yang jujur. "Kesembuhan tak akan dimulai sebelum kau jujur"(Oprah Winfrey). Semoga lekas sembuh.

Iqbalsandira said... @ April 8, 2009 at 3:58 PM

Buat selasih :
Yah..memang PKS lagi sakit!
Seharusnya, kalau memang orientasinya bukan kekuasaan pastilah qiyadah PKS tidak akan pernah kebakaran jenggot kalau di beritahu kelemahannya. Kader2 lugunya tidak akan didoktrin sedemikian rupa untuk memusuhi orang-orang yang kelihatannya memusuhi jamaahnya. Seolah2 PKS menjadi agama baru yang tidak bisa diganggu gugat. Perkataan qiyadahnya adalah wahyu baru. Saya punya data mbak Selasih mengenai pemikiran yang "parah" dari kebijakan2 qiyadah PKS di ranah publik. Tapi untuk apa?

Artinya PKS sekarang susah sembuh ya? karena gak pernah jujur sama dirinya sendiri..hihihihii

Sobirin Nur said... @ April 11, 2009 at 7:30 AM

Wah klo begini terus bisa diramalkan PKS bakalan gagal deh jadi the rulling party dan jadi perpanjangan tangan Ikhwan Muslimin di Indonesia?!
Allah tidak akan merobah nasib suatu kaum jika tidak merobah dirinya sendiri!

Iqbalsandira said... @ April 14, 2009 at 3:48 AM

Selasih komentar, tapi saya reject! Menurut beliau.sekali lagi menegaskan, PKS gak boleh dikritik. Kalau gak mau dikritik, lebih parah dari Suharto kali ya???

Apalagi ini pakai doktrin agama...luar binasa!!!

Pencari Inspirasi said... @ April 15, 2009 at 12:50 AM

Asslm, mas iqbal boleh saja berpendapat apapun, apalagi anda sudah keluar dari jamaah, memang penonton sepak bola akan lebih banyak berkomentar, bahkan marah2, menjelekan dan menghina, tapi ketika disuruh bermain belum tentu bisa...
begitu juga penonton pks seperti komunitas PKSWATCH, DLL, cobalah anda berjuang didaerah2, masih banyak saudara2 kita yang belum mengenal isalm dan tarbiyah... ayo sama2 berjuang.. ALLOHUAKBAR..

Iqbalsandira said... @ April 15, 2009 at 5:14 PM

"...memang penonton sepak bola akan lebih banyak berkomentar, bahkan marah2, menjelekan dan menghina, tapi ketika disuruh bermain belum tentu bisa.."

Cermati baik2 kata2 ini.....
Apa khan kata saya???

Iqbalsandira said... @ April 15, 2009 at 5:20 PM

Kalau tidak dirubah, alamat PKS akan menjadi lebih diktator daripada Suharto. Orang sekuler mending, karena peluang bertobat besar! Tapi orang yang merasa sudah beramal banyak, berilmu luas, lantas menjadi anti kritik. Inilah salah satu ciri kematian gerakan.

Pencari Inspirasi said... @ April 15, 2009 at 6:53 PM

" Kalau tidak dirubah, alamat PKS akan menjadi lebih diktator daripada Suharto. Orang sekuler mending, karena peluang bertobat besar! Tapi orang yang merasa sudah beramal banyak, berilmu luas, lantas menjadi anti kritik. Inilah salah satu ciri kematian gerakan"

Tolong kasih tau saya bukti2 diatas, jangan hanya asal ngomong saja, setahu saya yang turut berkecimpung dalam jamaah ini, tidak ada tuh seperti itu, "diktator" dan kata-kata yang tuduhan sangat kotor itu.
mungkin berita2 kotor tsb didapatkan dari PKSWATCH dan konco2nya...
dan sepengetahuan saya di PKSWATCH itu identitasnya TIDAK JELAS baik itu DOS (Dody Suhendra maupun komentator yang pro DOS. BLOGNYA TIDAK ADA KAWAN...

Anonymous said... @ April 16, 2009 at 12:04 AM

kayaknya perlu di buatkan tulisan dengan judul yang hampir sama "KARAKTER ANEH MANTAN KADER PKS"...
yah kayak pak iqbal ini!!!!

Iqbalsandira said... @ April 16, 2009 at 5:42 AM

Saya dapat dari asatidz assabiqunal awwalun.
Buktinya..gak jauh kok. Tuh... komen antum...

"...memang penonton sepak bola akan lebih banyak berkomentar, bahkan marah2, menjelekan dan menghina, tapi ketika disuruh bermain belum tentu bisa.."

ader PKS seakan merasa mereka adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang bersifat proprietary, sehingga merasa berhak memutuskan apapun tanpa melihat aspek 'perasaan' publik, hal mana terlihat jelas dalam berbagai kebijakannya selama ini. Padahal perlu dicatat dan diingat bahwa sebuah partai politik adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang sudah go public. Layaknya sebuah perusahaan yang besar karena go public, mereka juga harus mempertanggungjawabkan kebijakan-kebijakan pentingnya kepada publik. Menjelaskan apa latar belakang sebuah kebijakan diambil.Tetapi sayang seribu sayang, ungkapan yang paling sering muncul untuk menanggapi konsep ini adalah: kami adalah pemain bola dan anda adalah penonton, dan penonton tahu apa sih? Selain teriak tidak karuan dari tribun penonton! Sekali lagi, industri sepakbola masa kini merupakan sebuah industri yang “share cost and profit” antara klub, suporter, dan publik. Dimana peran suporter bukan saja terletak pada sorak sorai mereka di dalam stadion, tetapi suporter juga turut andil dalam permodalan, berbagi untung rugi dengan cara membeli saham, membeli merchandise dan sebagainya. Tentu saja analogi ini hanya sekedar permisalan yang lahir dari kepala saya yang iseng. Tetapi secara umum logika pemain bola vs supporter untuk digunakan sebagai penangkis jawaban terhadap konstituen kritis sudah sangat baheula. Kecuali, logika manajemen sepakbola yang digunakan adalah logika klub sepakbola tarkam alias antar kampung, maka jawaban ini sangat manjur! Apakah manajemen PKS yang professional, bersih dan peduli itu adalah manajemen tarkam? Hanya kader PKS sendiri yang bisa menjawabnya.

Pencari Inspirasi said... @ April 17, 2009 at 9:35 PM

"akhi tugas kita lebih banyak dari waktu yg tersedia,jangan banyak bicara yg sia-sia"

akhi ini sebuah renungan bagi kita semua..

“Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin terasa hambar. Ukhuwah makin kering, bahkan ana melihat ternyata banyak ikhwah banyak pula yang aneh-aneh.” Begitu keluh kesah seorang mad’u (murid) kepada murabbi (guru) nya di suatu malam. Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’u-nya. “Lalu apa yang ingin antum (kamu) lakukan setelah merasakan semua itu?” Sahut sang murrabi setelah sesaat termenung. “Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku, dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja.” Jawab ikhwah itu.

Sang murabbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. “Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos, bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” Tanya seorang murabbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad’u terdiam berpikir.Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam dengan kiasan yang amat tepat. “Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?” Sang murabbi mencoba memberi opsi. “Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana bila hiu datang? Dari mana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang bagaimana antum mengatasi hawa dingin?”

Serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang ikhwah tersebut. Tak ayal, sang ikhwah menangis tersedu. Tak kuasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. “Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho ALLAH SWT?” Pertanyaan yang menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk.” Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya? ” Tanya sang murabbi lagi. Sang ikhwah tetap terdiam dalam seunggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; “Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, InsyaALLAH ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan. “Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya ALLAH saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- NYA. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana.” Sang mad’u berazzam dihadapan sang murabbi yang semakin dihormatinya.

Sang murabbi tersenyum. “Akhi, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan ALLAH SWT.” “Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana ALLAH Ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata ALLAH, belum tentu antum lebih baik dari mereka.”

“Futur, mundur, atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidakkesepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka apakah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?” Sambungnya panjang lebar. “Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu orang kafir pun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da’i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh ALLAH untuk membenahi masalah-masalah dimuka bumi. Bukan hanya meng”ekspose” nya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.” Sang mad’u termenung sampai merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal yang tetap bergelayut di hatinya. “Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?” Sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga. “Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah ALLAH mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa melihat bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!”. Sahut sang murabbi. “Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausyiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala bakhil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaanya. ” Malam itu sang mad’u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah untuk tetap mengarungi jalan dakwah.

Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, ditelan gersangnya debu yang menerpa. Biarlah itu semua menjadi saksi sampai kita diberi dua kebaikan oleh ALLAH SWT : Kemenangan atau Mati Syahid. Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Ikhlas adalah motivasi yang kuat agar amal kita tetap terjaga berlanjut, tidak usang karena kepanasan dan tidak luntur karena kehujanan,tidak ghurur karena pujian, dan tidak prustasi karena cacian. Terus bergerak kearah tujuan yang paling puncak dari cita-cita. Melihat sesuatu yang paling indah dibalik setiap amal, selalu mampu menghadirkan sang Kholiq yang tak pernah salah dalam menilai.”

tolong jangan direject ya..... plz.....

Iqbalsandira said... @ April 18, 2009 at 4:17 AM

"....ko' koment saya di reject, nggk ditampilin??? takut diskusi??? apa ANTI KRITIKAN???...."
Jawab :
Antum ndak mematahkan argumen saya. Cuma mengklaim orang ini sakit hati, orang itu bermasalah. Khan hampir mirip ama takfiri. Saya memberi masukan, bukan mengadu domba. Terserah situ mau nilai saya kayak apa. Itu khan urusan saya dengan Allah. Lagian kita gak sepaham. Saya memberi masukan sebagai pecinta dakwah dan kebenaran. Antum menganggap dan mengklaim saya gak pantas memberi masukan dan kritikan. Dan semua kata2 saya dicurigai sebagai pemecah belah. Disitu kita berbeda sayang....Antum maksa pendapat antum kesaya, ya gak bisa gitu dong....

SUDAHLAH AKHI KLW ANTUM ADA MASALAH / KEKECEWAAN ANTUM DENGAN EX JAMAAH ANTUM INI, NGGK USAHLAH MENYEBARKAN KEBENCIAN DAN PERPECAHAN DI JAMAAH INI.
Jawab :
Kecewa? Saya gak ada urusan dengan PKS. PKS sebagai parpol tidak masuk dalam rencana hidup saya. Saya tidak punya kepentingan apapun dengan PKS. Mau PKS menang, kalah, dapat 20 persen, dapat 1 persen, mau nungging, mau merangkak, mau berlari, dan lain-lain. Sama sekali tidak berimplikasi pada kehidupan pribadi saya baik secara ekonomi, sosial, politik dll. Saya tidak mendapat titipan agenda dari parpol manapun untuk menggembosi PKS, saya tidak akan mendapat penghargaan kalau kritikan saya berhasil membusukkan PKS, sebaliknya, saya tidak pernah berharap dengan menulis artikel-artikel ini saya akan mendapat bargaining politik, lantas ditawari masuk ke struktur politik PKS. Saya cuma memberi saran dan kritik. Sebagai pecinta gerakan dakwah IM, sebagai pencari kebenaran. Alhamdulillah, saya hidup dari keringat dan darah sendiri. Dan tidak berkaitan apapun dengan PKS. Thats all....

ana sudah tau karakter antum sperti apa.........
Jawab :
Tuhan ya?

bukanya ana kader yang anti kritik ya???
Jawab :
Kalau yang ini kata2 siapa akhi?? :
"...memang penonton sepak bola akan lebih banyak berkomentar, bahkan marah2, menjelekan dan menghina, tapi ketika disuruh bermain belum tentu bisa.."

JAMAAH DAKWAH INI AKAN TERUS BERJALAN ADA ANTUM ATAU PUN TIDAK !!!!!
Jawab:
Emang! Siapa sih Iqbal? Biasa aja sayang...hehehe. Toh PKS hanya salah satu jamaatul minal muslimin. Masih banyak alternatif kok.

Anonymous said... @ April 19, 2009 at 11:39 PM

kalo emang mas iqbalnya sebelum gabung orangnya kayak gitu........ya wajar aja kalo skarang hobinya umbarkan aib saudaranya.....
gue tau siapa lo....

sitohang said... @ April 25, 2009 at 12:28 AM

Kalo saya boleh request, kenapa nggak semua partai mas review biar adil.

Iqbalsandira said... @ April 25, 2009 at 4:08 PM

mdh2an sempat bikinnya ya..

ABUZAID said... @ April 26, 2009 at 3:55 AM

Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah berlapang dada dan berhushudzan sesama saudaranya...bukannya mengumbar..yang bermasalah ngumpul dengan yang bermasalah..apalah jadinya

selasih said... @ April 26, 2009 at 8:29 PM

Lakukan penilaian yang terang, tenang, dan berimbang..

Iqbalsandira said... @ April 27, 2009 at 5:21 PM

Afwan nih...ada komentar baru dari
Tak Sekedar Kata, saya mau terbitkan tapi ternyata dia error. Saya kopikan disini ya..:

untuk saudaraku Iqbalsandira yang baik,
benarlah apa yang telah dinasihatkan oleh akhi Pencari Inspirasi, antum dihadapkan pada situasi demikian lalu bagaimana tindakan antum sebaiknya atau tindakan terbaiknya?. tentu sebagaimana akhir dari cerita tersebut harapannya ya akhi.
Benar bahwa jamaah dakwah ini ada kekurangan, tentu itu benar akhi dan hal ini wajar saja karena perjalanan dakwah tidak selamanya mulus seperti layaknya mobil yang melaju kencang dijalan tol. PKSpun dalam perjalanannya demikian juga sedang berusaha meniti jalan kepada perbaikan umat ini agar bangsa kita lepas dari belenggu ketamakkan para penguasanya dengan menggantinya dengan orang-orang yang amanah, memperbaiki undang-undang dinegeri ini agar lebih berpihak kepada ummat dll, insya Alloh walaupun perlahan namun pasti, itulah yang diamanahkan oleh islam ya akhi sedang dipikul oleh PKS, kenapa antum ya akhi mengatakan tidak ada urusan dengan PKS? kenapa?bukankah jamaah dakwah ini telah menjelma menjadi PKS sebagai kendaran politiknya? apakah saudaraku lupa bahwa kesyumulan islam diantaranya adalah tidak mengabaikan satu segipun dalam gerak dan hidup manusia muslim?apakah saudaraku lupa bahwa syumuliatul Islam menuntut Amal Siyasi? Imam Syahid Hasan Al Banna berkata seputar masalah siyasi:

“Sesungguhnya Muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali jika ia politisi"; pandangannya jauh kedepan terhadap permasalahan umatnya, memperhatikan dan menginginkan kebaikannya.
jadi demikian akhi. janganlah antum terburu-buru ingin segera tertegaknya syariah, ana senang dengan semangat kebaikan didiri antum ya akhi, namun bersabarlah bahwa proses perbaikan menuju kepada masyarakat yang adil makmur dan sejahtera dan dirihoi Alloh tidaklah mudah dan itu tidaklah melalui proses yang instan tapi sunnatullohnya adalah melalui tahapan-tahapannya yang terkadang harus terantuk batu, menginjak onak dan duri dan berjuta rintangan lain yang menghadang.. namun seberat apapun medan yang dilalui..PKS akan senantiasa melaju menghalau segala rintangan yang ada itu. tidakkah antum tergerak hati untuk bergabung bersama menghadapinya saudaraku? biarlah waktu yangkan menjawabnya. wallohu'alam

Iqbalsandira said... @ April 27, 2009 at 5:30 PM

ABU ZAID
Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah berlapang dada dan berhushudzan sesama saudaranya...bukannya mengumbar..yang bermasalah ngumpul dengan yang bermasalah..apalah jadinya

Jawab :
Saya sepakat akan hal itu. Ini juga nasehat buat kader2 PKS. Jangan langsung berhusnudzhan kalau ada yang memberi saran dan kritik. Oh ya, nasehat juga buat anda. Jangan cepat suudzhan dengan mengatakan orang lain bermasalah. Ok?

Selasih
Lakukan penilaian yang terang, tenang, dan berimbang..

Jawab :
Udah saya singkap kebaikannya, juga saya tulis kelemahannya. Ibarat berdagang, PKS itu harus jujur. Jangan mau dipuji dan riya terus dengan “kebaikannya”. Ibarat jualan buah, anda harus jujur kepada pembeli, Jangan mau memperlihatkan terus yang baik2. Ingat, anda ini jualan politik praktis. Mencari suara rakyat. Jangan berdustalah, tapi jujurlah! Khan anda sendiri yang bilang :

"Kesembuhan tak akan dimulai sebelum kau jujur"(Oprah Winfrey)

Iqbalsandira said... @ April 27, 2009 at 5:49 PM

untuk saudaraku Iqbalsandira yang baik,
>Makasih...

benarlah apa yang telah dinasihatkan oleh akhi Pencari Inspirasi, antum dihadapkan pada situasi demikian lalu bagaimana tindakan antum sebaiknya atau tindakan terbaiknya?. tentu sebagaimana akhir dari cerita tersebut harapannya ya akhi.
>Solusinya? Kembalilah seperti dulu, minimal seperti PK. Tauladan yang baik gak jauh kok. Tuh HAMAS....Jadikan PKS bukan mentah2 sebagai jamaah.

Benar bahwa jamaah dakwah ini ada kekurangan, tentu itu benar akhi dan hal ini wajar saja karena perjalanan dakwah tidak selamanya mulus seperti layaknya mobil yang melaju kencang dijalan tol. PKSpun dalam perjalanannya demikian juga sedang berusaha meniti jalan kepada perbaikan umat
> Mas..jujurlah, apakah PKS sekarang sedang memperbaiki ummat? Kencang mana dari ikhwah Hidayatullah? Wahdah? Bahkan HT. PKS sekarang lagi sibuk koalisi, kejar 20 % (Walau gagal) dll.

ini agar bangsa kita lepas dari belenggu ketamakkan para penguasanya dengan menggantinya dengan orang-orang yang amanah, memperbaiki undang-undang dinegeri ini agar lebih berpihak kepada ummat dll, insya Alloh walaupun perlahan namun pasti, itulah yang diamanahkan oleh islam ya akhi sedang dipikul oleh PKS,
> Berpihak? Dari sisi mana? Jalan2 keluar negeri? Tolak hak angket BLBI? Angkat Suharto jadi pahlawan? Menyetujui exxon yang Yahudi kelola blok cepu?????

kenapa antum ya akhi mengatakan tidak ada urusan dengan PKS?
>Karena setiap saya memberi masukan kepada PKS, maka pembela2 butanya akan menuduh yang enggak2. Dibilang sakitlah, bermasalahlah, toh saya tidak hidup dari periuk nasi PKS. Saya tidak menggantungkan kepentingan apapun kepada PKS. Perlu dicatat itu baik2. Saya hanya melihat PKS, sama seperti saya melihat NU, Muhammadiyah, HT JT, Salafy dll. Kenapa saya banyak membuat tulisan ttg PKS? Karena saya sempat berkecimpung didalamnya. Dan sedikit tahu ttg keadaannya. Serta saya merasa ada yang salah dengan “dakwah politik” ini.

kenapa?bukankah jamaah dakwah ini telah menjelma menjadi PKS sebagai kendaran politiknya? apakah saudaraku lupa bahwa kesyumulan islam diantaranya adalah tidak mengabaikan satu segipun dalam gerak dan hidup manusia muslim?apakah saudaraku lupa bahwa syumuliatul Islam menuntut Amal Siyasi? Imam Syahid Hasan Al Banna berkata seputar masalah siyasi:
“Sesungguhnya Muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali jika ia politisi";
> Apakah saya pernah membantah bahwa politik adalah bagian dari islam? Malahan tulisan saya ini adalah bentuk atau aplikasi dari komitmen syahadat saya. Yang memandang bahwa setiap muslim harus paham tentang politik. Kalau saya mau bahas ttg cara berpolitik PKS, akan lebih mencederai lagi PKSer. Jadi saya tahan saja. Tolong antum cermati lagi tulisan saya ya ustad....

pandangannya jauh kedepan terhadap permasalahan umatnya, memperhatikan dan menginginkan kebaikannya. jadi demikian akhi. janganlah antum terburu-buru ingin segera tertegaknya syariah,
ana senang dengan semangat kebaikan didiri antum ya akhi, namun bersabarlah bahwa proses perbaikan menuju kepada masyarakat yang adil makmur dan sejahtera dan dirihoi Alloh tidaklah mudah dan itu tidaklah melalui proses yang instan tapi sunnatullohnya adalah melalui tahapan-tahapannya yang terkadang harus terantuk batu, menginjak onak dan duri dan berjuta rintangan lain yang menghadang.. namun seberat apapun medan yang dilalui..PKS akan senantiasa melaju menghalau segala rintangan yang ada itu.
> Yang tidak bersabar saya atau PKS? Malah ambisinya bukan syariah, tapi target suara 20 % yang tidak jelas saudara2! Mungkin antum bisa baca tulisan saya di : http://iqbalsandira.blogspot.com/2009/01/pks-target-20-bersabarlah-wahai.html

tidakkah antum tergerak hati untuk bergabung bersama menghadapinya saudaraku? biarlah waktu yang akan menjawabnya. Wallohu'alam
> Untuk saat ini gak deh. Toh PKS sebagai turunan gerakan IM dah jauh meninggalkan khittahnya. Toh politik bukan satu2nya ladang untuk beramal....

Iqbalsandira said... @ April 27, 2009 at 6:03 PM

Imam Hasan al-Banna, ketika berbicara tentang politik, beliau mengatakan: "Wahai kaum kami, sungguh ketika kami menyeru kalian, ada Qur'an di tangan kanan kami, Sunnah di tangan krii kami, dan jejak para pendahulu yang shalih dari putra-putra terbaik umat ini adalah panutan kami. Kami menyeru kalian kepada Islam, ajaran-ajarannya, dan hukum-hukumnya. Apabila menurut kalian seruan ini adalah politik, maka itulah politik kami. Apabila orang yang menyeru kalian kepada itu semua adalah politikus, maka Alhamdulillah kami adalah orang-orang yang paling ulung dalam politik".

Iqbalsandira said... @ April 27, 2009 at 6:04 PM

Dan, jama'ah Ikhwan di Mesir, setahu saya masih seperti itu, belum berubah pandangannya, sampai sekarang. Meskipun di Mesir kehidupan politik lebih sulit, tertutup, dan pemerintahannya tidak memberi peluang bagi Ikhwan, tapi Ikhwan masih tetap bisa eksis, dan mengembangkan gerakannya, dan sekarang mereka memiliki perwakilan di Parlemen Mesir, 78 anggota, melalui calon independen. Apakah jama'ah Ikhwan di Mesir mengubah sikap dan pandangannya menjadi gerakan yang inklusif, terbuka? Mestinya, Ikhwan mempunyai peluang melakukan negosiasi politik dengan Mubarak, dan dapat berbicara tentang kekuasaan, tapi tidak dilakukannya. Ikhwan di Mesir masih terus melakukan amal Islami, di parlemen, di berbagai institusi masyarakat, dan lainnya, termasuk lembaga profesi. Tidak ada perubahan.

taksekedarkata said... @ April 27, 2009 at 10:37 PM

akhina Iqbal yang baik.Tidak ada yang berubah dari PKS saudaraku, PK adalah PKS. PKS masih memberi tauladan pada ummat ini.PKS masih berkomitmen untuk menghadirkan ALEG-ALEG yang bersih dari korupsi di parlemen hingga saat ini memunculkan dan mengamanahkan kader terbaiknya untuk melayani ummat seperti menpora, mentan dan menpera dan banyak contoh sudah terbukti PKS lakukan, kader-kader grassroot yang ikhlas beramal dari bakti sosial dilingkungan mereka hingga mereka rela berbondong-bondong ke Aceh saat Tsunami, gempa di jogja, Musibah kebakaran kader-kader PKS senantiasa siap berkorban membantu ummat yang tertimpa kemalangan,banjir dan tanah longsor,itulah yang mereka sampai detik ini lakukan jadi tidak ada yang berubah ya akhi.yang terakhir saat jebolnya tanggul situ gintung banyak sekali ikhwah yang hadir disana akhi bukan hanya ikhwah disekitar musibah yang hadir disana bahkan ada juga ikhwah yang dari solo dan tempat2 lain juga hadir tuk menolong mereka yang tertimpa musibah itu. jadi PKS senantiasa ingin selalu dekat dengan ummat, PKS ingin manghadirkan keteladanan dalam pemerintahan, PKS terus menerus berupaya untuk itu walau pelan namun pasti dan PKS meyakini bahwa perubahan ke arah yang lebih baik untuk bangsa harus dihadirkan di republik ini. dan saudaraku iqbal yang baik, bahwa ini adalah langkah-langkah kami yang konkrit dan masih kecil (di Pemilu 2004 PKS 45 kursi DPR dari 500-an kursi yang tersedia).
Bila akhina bertanya Kencang mana dari ikhwah Hidayatullah? Wahdah? Bahkan HT. maka kepada mereka kami sampaikan rasa bahagia dan salam takzim kami dengan ikhwahikhwah disana, semoga Alloh melipat gandakan amal akhina semua karena mereka telah bekerja untuk islam.mari kita bersinergi untuk kejayaan dan kemuliaan islam.
baiklah kalau jalan-jalan keluarnegeri adalah sebuah kesalahan besar bagi akhina iqbal, tapi apakah akhina sudah mengetahuinya dengan pasti? kalaupun benar keluar negeri lalu apakah benar kader dari PKS tersebut hanya jalan-jalan? sudahkah antum kesumbernya langsung mengcrosscheck berita ini? kalaupun terjadi apakah semua kader PKS demikian akhi, lantas hanya karena 1 atau 2 kader demikian anda mundur dan kecewa berat dan lari meninggalkan jamaah ini seolah-olah di jamah ini sudah tidak ada kebaikan yang terhimpun didalamnya sehingga antum begitu saja meninggalkannya? apakah baik bersikap yang demikian akhi? lantas kalaulah antum pindah ke jamaah lain dan menemukan hal yg sama, apakah lantas antum meninggalkannya? sampai kapan akhi? masalah exxon mobil, hal ini sudah disampaikan oleh akhina andi rahmat melalui pandangan fraksi linknya ini http://fpks-dpr.or.id/main.php?op=isi&id=5138&kunci=andi%20rahmat dan tentang soeharto, bukankah sebelum keputusan menayangkan soeharto sebagai bapak bangsa yang PKS lakukan adalah melakukan survei tentang harapan masyarakat Februari 2008 dan ternyata setelah dilakukan survei munculah nama Soeharto yang diusulkan sejumlah kader-kader di daerah jadi yang benar adalah yang menempatkan Soeharto sebagai guru bangsa itu adalah hasil survei di daerah-daerah.Kalau mau dendam bisa saja akhi, bukankah Ustadz Hilmi juga pernah dipenjara kala rezim soeharto?! untuk membangun bangsa ini kedepan tidak bisa lagi dengan sikap-sikap yang kontraproduktif seperti itu, membangun ummat dan bangsa ini yang diperlukan adalah kebersamaan, PKS perlu bersinergi dengan komponen dan anak bangsa dinegeri ini.tidaklah mungkin dilakukan sendirian berapa sih jumlah kader dakwah ini? oleh karena itu yang realistis adalah kita dapat bekerjasama selama itu untuk kebaikan dan maslahat bagi ummat.

Iqbalsandira said... @ April 29, 2009 at 8:09 PM

akhina Iqbal yang baik.Tidak ada yang berubah dari PKS saudaraku, PK adalah PKS. PKS masih memberi tauladan pada ummat ini.PKS masih berkomitmen untuk menghadirkan ALEG-ALEG yang bersih dari korupsi di parlemen hingga saat ini memunculkan dan mengamanahkan kader terbaiknya untuk melayani ummat seperti menpora, mentan dan menpera dan banyak contoh sudah terbukti PKS lakukan, kader-kader grassroot yang ikhlas beramal dari bakti sosial dilingkungan mereka hingga mereka rela berbondong-bondong ke Aceh saat Tsunami, gempa di jogja, Musibah kebakaran kader-kader PKS senantiasa siap berkorban membantu ummat yang tertimpa kemalangan,banjir dan tanah longsor,itulah yang mereka sampai detik ini lakukan jadi tidak ada yang berubah ya akhi.
Saya tahu ustad. Saya pernah jadi relawan medis PKS ke Aceh pasca 2 minggu setelah tsunami. Banyak yang ganjil saya lihat disana. Utamanya di posko Meulaboh. Tapi gak etis saya ceritakan disini.

yang terakhir saat jebolnya tanggul situ gintung banyak sekali ikhwah yang hadir disana akhi bukan hanya ikhwah disekitar musibah yang hadir disana bahkan ada juga ikhwah yang dari solo dan tempat2 lain juga hadir tuk menolong mereka yang tertimpa musibah itu.
Maklumlah, khan dekat pemilu, SBY ama JK saja berebutan datangnya.

jadi PKS senantiasa ingin selalu dekat dengan ummat, PKS ingin manghadirkan keteladanan dalam pemerintahan, PKS terus menerus berupaya untuk itu walau pelan namun pasti dan PKS meyakini bahwa perubahan ke arah yang lebih baik untuk bangsa harus dihadirkan di republik ini. dan saudaraku iqbal yang baik, bahwa ini adalah langkah-langkah kami yang konkrit dan masih kecil (di Pemilu 2004 PKS 45 kursi DPR dari 500-an kursi yang tersedia).
Saya anti neoliberalisme, dan saya melihat PKS sama sekali tidak memiliki landasan platform ideologi politik yang jelas, selain mengikut kemana angin berhembus. Saya takutnya, seluruh gerakan dakwah akan dinilai oportunistik dan mengejar kekuasaan ketika bertransformasi menjadi partai politik praktis. Sehingga PKS harus hati2, jangan sampai ummat tidak mau lagi berpihak kepada ideologi islam karena menganggap sama saja dengan partai-partai sekuler, Naudzubillah….

Bila akhina bertanya Kencang mana dari ikhwah Hidayatullah? Wahdah? Bahkan HT. maka kepada mereka kami sampaikan rasa bahagia dan salam takzim kami dengan ikhwahikhwah disana, semoga Alloh melipat gandakan amal akhina semua karena mereka telah bekerja untuk islam.mari kita bersinergi untuk kejayaan dan kemuliaan islam.
InsyaAllah jauh lebih mulia ketimbang main ngambek2an dan ngancam2an dgn Partai Demokrat krn masalah jatah menteri dan cawapres.

baiklah kalau jalan-jalan keluarnegeri adalah sebuah kesalahan besar bagi akhina iqbal, tapi apakah akhina sudah mengetahuinya dengan pasti? kalaupun benar keluar negeri lalu apakah benar kader dari PKS tersebut hanya jalan-jalan? sudahkah antum kesumbernya langsung mengcrosscheck berita ini?
Waduh…capek deh…jadi kalau ada 200ribuan simpatisan tidak sepakat dengan tindakan politik PKS. Untuk menghindari husnudzhan harus tabayyyun langsung kesumbernya gitu? Saran saya: Jadi partai politik apalagi yang mengklaim sebagai pelayan umat “rendah hati” sedikitlah jangan terlalu sombong. Anda ini pelayan ummat. Jangan mau ditabayyuni terus. Jelaskan konsiderannya ke publik. Jangan publik terus yang disuruh tabayyun ke PKS. Ini khan dah jaman mihwar siyasi. Katanya mau dekat dengan ummat, pas dimintai pertanggungjawabnnya malah disuruh tabayyun satu-satu. Parah….

kalaupun terjadi apakah semua kader PKS demikian akhi, lantas hanya karena 1 atau 2 kader demikian anda mundur dan kecewa berat dan lari meninggalkan jamaah ini seolah-olah di jamah ini sudah tidak ada kebaikan yang terhimpun didalamnya sehingga antum begitu saja meninggalkannya? apakah baik bersikap yang demikian akhi? lantas kalaulah antum pindah ke jamaah lain dan menemukan hal yg sama, apakah lantas antum meninggalkannya? sampai kapan akhi?
Di HT juga baik, wahdah juga baik, sekarang saya lagi ngikut2 ngaji di wahdah. Lebih real dan tanpa simbol2 politik praktis. Toh ada juga hadits begini :
Rasul SAW bersabda, "Tinggalkan firqah-firqah itu semua, walaupun kalian harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangi kalian dan kalian dalam keadaan tetap seperti itu (itu lebih baik)" (HR Bukhari dan Muslim).
Sampai kapan ? Tunggu Imam Mahdi ajalah….sambil memperbaiki diri. Ikut2 ta’lim. Kalau kita gak dapat, anak2 kita yang dipersiapkan.

masalah exxon mobil, hal ini sudah disampaikan oleh akhina andi rahmat melalui pandangan fraksi linknya ini http://fpks-dpr.or.id/main.php?op=isi&id=5138&kunci=andi%20rahmat
> Jujurlah ustad…jujurlah… tanyalah ke dalam hati nurani antum yang paling mendalam. dengan alasan pembenaran apapun. Apakah antum rela bekerjasama dengan pembantai anak2 muslim di Palestina? Percuma demo dong…padahal Yahudinya kita beri dana. Lebih mending beli Coca Cola sama Sprite. Sahamnya kecil. Tapi Exxon?? Wow…naudzubillah….

dan tentang soeharto, bukankah sebelum keputusan menayangkan soeharto sebagai bapak bangsa yang PKS lakukan adalah melakukan survei tentang harapan masyarakat Februari 2008 dan ternyata setelah dilakukan survei munculah nama Soeharto yang diusulkan sejumlah kader-kader di daerah jadi yang benar adalah yang menempatkan Soeharto sebagai guru bangsa itu adalah hasil survei di daerah-daerah.Kalau mau dendam bisa saja akhi, bukankah Ustadz Hilmi juga pernah dipenjara kala rezim soeharto?! untuk membangun bangsa ini kedepan tidak bisa lagi dengan sikap-sikap yang kontraproduktif seperti itu, membangun ummat dan bangsa ini yang diperlukan adalah kebersamaan, PKS perlu bersinergi dengan komponen dan anak bangsa dinegeri ini.tidaklah mungkin dilakukan sendirian berapa sih jumlah kader dakwah ini? oleh karena itu yang realistis adalah kita dapat bekerjasama selama itu untuk kebaikan dan maslahat bagi ummat.
> Sudah saya bantah semua mimpi dan narasi besar PKS di link ini : http://iqbalsandira.blogspot.com/2009/01/tentang-mimpi-dan-narasi-besar-pks.html

Iqbalsandira said... @ April 30, 2009 at 6:32 PM

Saya hanya menjawab komentar yang mutu. Jadi komentar yang gak mutu dan aneh, mending gak usah komen deh. Kayak : Halah, ente itu barisan sakit hati, aku tahu siapa kamu. Yang kita bahas disini PKS, bukan saya. Ok????

AF said... @ May 6, 2009 at 8:22 PM

Yang saya heran, kenapa nih PKS kalo menjawab kritikan banyakan kedengaran memberikan argumen pembenaran. Kalau ada kritikan, yah... terimalah, dan introspeksi. Apa karena takut perolehan suaranya berkurang hanya krn kritikan itu? Kalau jawabannya iyah, sungguh sangat disayangkan. Keikhlasan tidak bisa diukur dari hasil akhir, apalagi cuma dgn barometer jumlah suara.
Saya masih golongan yg merekomendasikan orang-orang untuk milih PKS(pemilu lalu) walau bukan kader PKS, tp tulisan sdr Iqbal ini seharusnya sebuah masukan yg sangat berharga buat PKS, asal saja mau menerimanya dengan berlapang dada.
Kalau unsur kritikan tidak pernah lagi datang(walau dalamnya sebetulnya masih banyak yg perlu dikritik), lama2 mati rasa loh. Tidak akan berasa lg sebuah kritikan, melainkan langsung di-cap "fitnah", atau istilah2 pe-ngeles-an lainnya.

Iqbalsandira said... @ May 6, 2009 at 11:13 PM

Masalahnya mas, saya dianggap jadi musuh duluan...khan sayang banget tuh...
Padahal, kalo ikhlash memandang, gak ada maksud pembusukan apapun pada tulisan saya.
Makasih dah berkunjung...

Anonymous said... @ May 14, 2009 at 8:31 PM

Duh,saya cukup dibuat pusing dengan "perang tulisan" diatas. Bukankah sesama muslim bersaudara?
Sy orang awam dan benar2 dari daerah pelosok. Dan memang saya sudah merasakan "manfaatnya" kegiatan2 kader PKS di kampung saya. Caleg PKS pun lebih "berisi" dari pada caleg partai lain.
Hanya saja, kesan "eksklusif" kader PKS mohon dikurangi, agar lebih bisa merakyat, sehingga kita akan sama2 berusaha memperbaiki indonesia raya tercinta ini.

Anonymous said... @ May 27, 2009 at 8:46 PM

intinya kalo saya PKS itu Partai Kejar Setoran ... hehehehe setoran MENTERI di kekuasaan kasian banget ... di negeri ini tidak ada partai yang baik, semua kayak penjilat, menjilat untuk memperoleh kekuasaan ... fuih, kalo GOLPUT lebih banyak mudaratnya mending saya pilih GOLPUT dibanding milih komunitas penjilat ... :)

:ngacir:

Anonymous said... @ July 7, 2009 at 7:55 AM

sebenarnya kultur/budaya "apa kata qiyadah" bukan cuma milik pks,saya yang pernah bergabung dengan jamaah dakwah lain pun,sampai pada titik "kecewa" karena kultur "apa kata qiyadah" ini menjadi pembunuh segala kritisi dan budaya dialogis yang seharus nya ditumbuhkan...apa memang kalo mau berjamaah kita harus bisa "taat" dan nurut saja? ..

m.ali said... @ July 19, 2009 at 8:59 PM

Saudaraku Iqbal....Kalau anda kecewa dengan PKS, mungkin masih banyak orang yg bersyukur ada PKS, PKS tidak perlu "abadi", PKS boleh Bubar tetapi perjuangannya jangan sampai anda bubarkan, sudah banyak tauladan politik di negeri ini yg diberikan oleh PKS antara lain setiap Kampanye tidak arogan...ahirnya partai lain jadi malu dan merekapun berusaha untuk tidak arogan, sehingga terciptalah partai2 yang santun. Saya banyak memerhati PKS tapi saya gak pernah mendengar nama anda dalam kanca perjuangan besar PKS kecuali dg tidak sengaja membaca tulisan anda diatas.ungkin anda berharap PKS kerdil..itu bisa saja...tapi perjuangannya tidak mungkin mampu anda kerdilkan, maaf kalau saya tidak menyenangkan anda, Salam

Iqbalsandira said... @ July 19, 2009 at 11:05 PM

Emang orang harus dikenal gitu?
Apakah saya berharap PKS kerdil? Ah, gak juga...

Anonymous said... @ July 29, 2009 at 7:12 AM

nyong g cm kritis tu tp lbh dr pedes. priwe..kader PKS jg lo ini.

simpatiPKS said... @ April 11, 2010 at 2:06 PM

HT dan PKS sama tujuannya....menuju khilafah terbentuk dan syariah islam tegak. Klo HT gak berpolitik makanya adem2 aja, tapi PKS ikut dalam kancah Politik makanya banyak tantangan dan pengaruh sana sini...maka wajarlah kalo kader PKS ada yang keliru, kan mamnusia juga toh.

portallworks said... @ June 23, 2010 at 9:23 PM

anggota PKS itu...kalo nyalahin ga jauh dari argument tanpa dalil...kalo mau bantah keluarin donk dalilnya..bukan menyudutkan.....apa yang melandasi salah benarnya seseorang....!! bukan melakukan pembenaran....malu donk! ente ngakunya bersumer dari Al-Qur'an...atau mungkin Al-Qur'an cuma pelengkap saja...!! hehehe sorryw

Post a Comment